Dapatkan yang Halal dan Berkah!

SYU’AIB bin Harb – seorang atba’ tabi’in yunior – berkata, “Jangan menyepelekan uang receh (fulus) yang engkau dapatkan melalui suatu cara di mana engkau menaati Allah Subhanahu Wata’ala di dalamnya. Bukan uang receh itu yang akan digiring (menuju Allah), akan tetapi ketaatanmu. Bisa jadi dengan uang receh itu engkau membeli sayur-mayur, dan tidaklah ia berdiam di dalam rongga tubuhmu hingga akhirnya dosa-dosamu diampuni.” (Dari: al-Hatstsu ‘ala at-Tijarah wa ash-Shina’ah, karya Abu Bakr al-Khallal).

Demikianlah, sebuah perkerjaan tidaklah dinilai dari besar kecilnya gaji yang diperoleh, akan tetapi dari cara kita melakukannya. Pertanyaan mendasar yang harus dicamkan adalah, “Apakah Allah ridha dengan pekerjaanku ini?” Baca lebih lanjut

Menegakkan yang Haq, Panggilan Fitrah

Kata al-insan (manusia) berasal dari akar kata al-uns yang artinya harmonis. Manusia cenderung merasa senang dengan segala kebaikan yang dikenali hati (al-ma’rufat) dan benci dengan segala kejahatan yang diingkari hati (al-munkarat).Apabila seseorang berhenti sejenak dari kesibukan dunia, terdengarlah suara hati (dhamir) yang mengajak dia berdialog dengan totalitas wujud Yang Maha Mutlak (wajibul wujud), wujud yang tak bisa ditangkap oleh panca indera. Ini berbeda dengan objek-objek yang sehari-hari bisa ditangkap oleh panca indra, yang sesungguhnya adalah sangat relatif (mumkinul wujud). Baca lebih lanjut

Menjadi Umat Bermartabat

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang m a’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” QS Al i Imron (3) : 110

Ketika Yerusalem ditaklukkan, Khalifah Umar bin Khattab datang ditemani seorang pelayannya, mengendarai seekor unta secara bergantian. Umar mengenakan pakaian biasa yang begitu sederhana, lusuh dan berdebu, karena ia telah menempuh perjalanan yang amat jauh. Sementara penguasa Yerusalem, Uskup Agung Sophronius, yang didampingi oleh pembesar gereja dan pemuka kota, siap menyambut Umar untuk menyerahkan kedaulatan Yerusalem ke tangan kaum Muslimin. Masing-masing mengenakan pakaian kebesaran sebagaimana layaknya para penguasa Romawi. Melihat hal itu kaum Muslimin sempat berkecil hati dan meminta Umar berganti pakaian yang pantas. Umar menolak dan mengatakan, “Cukuplah Islam itu yang menjadikan kita mulia!” Baca lebih lanjut

Jangan Jadi Penghambat Dakwah Seperti Monyet!

Ada golongan yang selalu berusaha menghambat dakwah. Melekatkan stigma hitam kepada penyeru Islam. Bagaimana kita bertahan dalam tarung dahsyat ini?

Jika mau digambarkan, Indonesia saat ini mirip dengan apa yang dijelaskan Allah Subhana wata’ala ada dalam surah Al ‘Araf. Dalam surah Al A’raf intinya adalah perintah kepada manusia untuk menentukan sifat. Menetapkan pilihan. Setiap surah dalam Al-Qur’an ada tujuannya. Tujuan dari surah ini adalah perintah agar manusia menentukan pilihan hidupnya. Baca lebih lanjut

Suka Membodohkan Orang, Tanda Ilmu Tak Bermanfaat

Seyogyanya kita selalu melihat ke dalam diri kita sendiri dan tidak sibuk menghakimi orang lain
Suatu saat beberapa sahabat Al Hasan Al Bashri menyebutkan beberapa definisi tawadhu’, namun beliau diam saja. Saat definisi semakin banyak disebut, beliau mengatakan,”Aku menilai kalian telah banyak menyebut apa itu tawadhu’.”

Akhirnya mereka balik bertanya, “Apa tawadhu’ itu menurut Anda?”

Al Hasan Al Bashri menjawab, “Seorang keluar dari rumahnya, maka ia tidak bertemu seorang Muslim, kecuali mengira bahwa yang ditemui itu lebih baik dari dirinya.” (Az Zuhd, hal. 279) Baca lebih lanjut

Beriman Secara Spontan

Muslim yang taat syariat, dirinya akan merasa dekat dan diawasi Allah.  Bahkan akhlak orang  beriman lebih memudahkan pekerjaan aparat keamanan

Oleh: Shalih Hasyim*

Sebelum datangnya wahyu yang dibawa Muhammad, boleh dikata tiada bangsa yang memiliki karakter yang kasar melebihi bangsa Arab.  Mereka yang diam di dalamnya, bisa dikatakan telah mengidap 6 penyakit K (Kurap, Kutil, Kudis, Kurus, Kere, dan Kesasar).
Baca lebih lanjut